Tuesday, August 23, 2005

:: Hadiah cinta seorang ibu ::


``Bisa saya melihat bayi saya?`` pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.

Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, ``Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.`` Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, ``Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?`` Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. ``Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,`` kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, ``Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,`` kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, ``Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.`` Ayahnya menjawab, ``Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.`` Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, ``Sesuai denganperjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.``

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah.... bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. ``Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,`` bisik sang ayah. 'Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?'

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

***********
5:40 PM
***********

:: --:: Kekuatan do'a ::-- ::

Doa itu senjata orang mukmin, cukup sering saya dengar dan baca. Tapi jujur saja tidak ada penghayatan khusus terhadapnya. Namun peristiwa beberapa bulan lalu membuat saya lebih ngeh dengan kata-kata tersebut.

Berawal ketika saya dan adik pergi untuk satu keperluan. Tak ada masalah saat menaiki angkot (angkutan kota) pertama. Tapi ada rasa was-was saat saya akan menaiki angkot kedua, entah kenapa. Beberapa kali saya mengucapkan ‘audzubikalimattillaahittammat min syarri ma khalaq’ seraya melangkah masuk ke dalam mobil jurusan Lebak Bulus itu.

Sepanjang perjalanan satu per satu penumpang turun. Tinggallah saya, adik, seorang perempuan, dan tiga orang lelaki bertubuh besar. Dua duduk di depan kami, seorang di sebelah saya.
“Kuliah di mana, Dik?” Laki-laki bertopi pet yang duduk di depan saya tiba-tiba bertanya pada saya. “Di Lenteng,” sahut saya sambil menyebutkan mantan kampus saya dulu. Saya malas berbasa-basi menjelaskan bahwa saat itu saya sudah mantan mahasiswi.

Tiba-tiba saja si topi pet mulai nyerocos tentang kasus penusukan di angkot berjurusan sama. Pelaku penusukan, oceh si topi pet, adalah laki-laki namun pisau yang dipakai disembunyikan dalam tas rekannya yaitu seorang wanita berjilbab! Dan karena kami berjilbab ia ingin memeriksa tas saya untuk memastikan tidak ada pisau di dalamnya.
Saya dan adik terkesiap. Ini sih alasan standar penodong. Adik saya pernah mengalami hal serupa di daerah sekitar situ.

Refleks, adik mengetuk atap untuk menghentikan angkot yang sedang melaju. “Hei, jangan turun aja dong, liat dulu tasnya,” bentak seorang yang berkaus kuning. “Saya enggak mungkin bawa pisau,” balas saya dengan nada tinggi. Hati saya sudah ketar-ketir. Saat itu di dalam tas ada handphone dan uang 300 ribu. Adik saya mulai melafadzkan doa-doa dengan suara keras karena takut.

“Keluarin aja handphone sama dompetnya biar tasnya kita periksa,” bentak si topi pet. “Enggak ada apa-apa di tas saya. Cuma Quran,” balas saya lagi. Kesal, saya buka sedikit tas dan mengambil Quran yang alhamdulillah saat itu sedang saya bawa. Saya tunjukkan pada mereka.

Si topi pet mulai kesal. “Jangan sampai saya paksa ya,” serunya sambil merogoh kantung belakangnya. Masya Allah, pisau lipat. Adik saya bertambah keras melafadzkan doa-doa. Subhanallah, tiba-tiba tangan si topi pet gemetar. Pisaunya terjatuh ke kolong bangku. Ketika ia mengambilnya kembali lagi-lagi pisaunya terjatuh. Ia berteriak kepada si kaus kuning, yang saat itu sudah tarik-tarikan tas dengan saya. “Udah, ambil aja tasnya!” serunya.

Kesempatan datang ketika mobil yang kami tumpangi berhenti karena lampu merah. Cepat saya dan adik turun dan berlari ke pinggir jalan. Ketika sebuah taksi melintas, bergegas saya dan adik naik. Kami tak mau ambil resiko mereka turun dan mengejar kami. Kami bernafas lega dan bersyukur Allah telah menyelamatkan kami saat itu lantaran doa-doa yang terus kami lafadzkan sepanjang peristiwa tadi.

***********
5:29 PM
***********

About Me

name : Muammar
age : 21th years
birthday : 07/11/1985
school : Al-Azhar Univ
cca

motto

Kenapa tak pernah kau tambatkan. perahumu di satu dermaga? Padahal kulihat, bukan hanya satu. pelabuhan tenang yang mau menerima. kehadiran kapalmu!

want

Stats

go to blogpatrol for a free stats counter.

SHOUT BOX


Name
Email
URI
Msg
place your tag board or cbox here.

Friends

Friend
Friend
Friend
Friend
Friend

Links

GooglE
aCehpO
AnnIdA

Credits

Blogger
Blogskins
indicolite07
Copyright© 2005

Recent

Hadiah cinta seorang ibu
--:: Kekuatan do'a ::--
PERJALANAN HIDUP KITA
Harimu Adalah Hari Ini
Berkat Kejujuran
Cerita
Do'a
Cerita
PENUNTUT ILMU
Mengapa Kami Memilih Islam Husain Rofe(Reformer In...

Archive







__;; Cinta ;;__

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

Terimakasih.

Selamat menikmati.....!!!!